Dalam praktik klinis sehari-hari, salah satu tantangan terbesar adalah membedakan antara penyakit infeksi virus yang memiliki gejala awal yang saling tumpang tindih, seperti Flu Biasa, COVID-19, dan Demam Berdarah Dengue (DBD). Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyarankan agar masyarakat dan tenaga kesehatan menggunakan pendekatan sistematis, yang tidak hanya mengandalkan gejala tetapi juga melihat konteks epidemiologi dan temuan spesifik. Flu Biasa umumnya ditandai dengan bersin, hidung meler, dan nyeri tenggorokan ringan, dengan demam yang jarang tinggi dan durasi penyakit yang relatif singkat. Sementara itu, pembedaan COVID-19 dan DBD memerlukan kewaspadaan yang lebih tinggi mengingat potensi komplikasi serius.
COVID-19 dan DBD memiliki kemiripan dalam manifestasi demam tinggi, nyeri otot (mialgia), dan kelelahan. Namun, terdapat beberapa tanda khas COVID-19 yang menjadi perhatian IDI, yaitu gangguan saluran napas atas dan bawah yang dominan, seperti batuk kering yang persisten dan terutama hilangnya indra penciuman (anosmia) dan/atau indra perasa (ageusia). Gejala ini jarang ditemukan pada DBD atau Flu biasa. Selain itu, perjalanan penyakit COVID-19 sering melibatkan sesak napas di fase lanjut. Sementara itu, DBD memiliki ciri khas yang berkaitan dengan vektor (nyamuk Aedes aegypti) dan gejalanya sering dimulai dengan demam tinggi mendadak yang dapat mencapai $40^{\circ}\mathrm{C}$, diikuti nyeri hebat di belakang bola mata, dan yang paling krusial adalah ruam kulit (petekie) serta tanda-tanda perdarahan lainnya.
Aspek kunci dalam membedakan ketiga penyakit ini, terutama antara COVID-19 dan DBD, terletak pada pola demam dan temuan laboratorium. Demam pada DBD biasanya memiliki pola demam bifasik (turun sebentar lalu naik lagi) dan diikuti dengan fase kritis sekitar hari ke-3 hingga ke-7 ketika demam mulai turun. Pada fase kritis ini, risiko kebocoran plasma dan syok Dengue meningkat. Panduan IDI menekankan pentingnya pemeriksaan darah, di mana pasien DBD menunjukkan ciri khas berupa penurunan signifikan jumlah trombosit (trombositopenia) dan peningkatan hematokrit. Sebaliknya, pada COVID-19, meskipun dapat terjadi limfopenia (penurunan limfosit), trombositopenia yang berat lebih jarang terjadi dibandingkan DBD, dan diagnosis dikonfirmasi melalui tes PCR atau antigen.
Kesimpulannya, membedakan ketiga penyakit ini membutuhkan pemantauan gejala yang cermat dan konfirmasi diagnostik. Jika gejala yang dialami adalah demam tinggi mendadak di daerah endemis nyamuk, segera pikirkan DBD dan lakukan tes darah. Jika gejala dominan adalah gangguan pernapasan, anosmia, dan riwayat kontak erat, curigai COVID-19 dan lakukan tes swab. IDI mendorong masyarakat untuk tidak melakukan diagnosis mandiri, tetapi segera berkonsultasi dengan fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan yang tepat (laboratorium, swab), sehingga penanganan dapat diberikan secepatnya dan komplikasi fatal, terutama akibat DBD atau COVID-19, dapat dicegah.
Comments are closed